Mengapa penting mengetahui mikrobioma vagina?
Kesehatan kehamilan sering kali hanya dikaitkan dengan asupan nutrisi dan pemeriksaan janin secara rutin. Namun, terdapat faktor fundamental yang sering terabaikan namun sangat menentukan keselamatan ibu dan janin: mikrobioma vagina. Keseimbangan ekosistem bakteri di area genitalia ini bukan sekadar masalah kenyamanan, melainkan benteng pertahanan biologis yang menjaga stabilitas lingkungan rahim dari invasi patogen.
Namun, peran mikrobioma dalam menjaga kesehatan genitalia terutama vagina dan mulut rahim (serviks) sering kali diabaikan dan tidak banyak dipahami. Padahal ketidakseimbangan mikrobioma yang ditandai dengan keputihan patologis telah dikaitkan dengan pemicu rantai inflamasi molekuler yang secara signifikan meningkatkan risiko berbagai komplikasi berat, termasuk persalinan prematur, keguguran, hingga peningkatan risiko operasi sesar darurat, peningkatan risiko infeksi menular seksual, peradangan genitalia kronis, hingga kanker serviks.
Apa itu mikrobioma vagina?
Pada wanita yang sehat, mikrobioma vagina umumnya didominasi oleh bakteri baik Lactobacillus sp. Bakteri ini menghasilkan asam laktat yang akan menjaga lingkungan vagina tetap asam (dengan pH sekitar 3,8–4,5), sehingga menciptakan lingkungan yang tidak ramah bagi bakteri patogen yang dapat mengancam janin.
Jika keseimbangan mikrobioma ini terganggu dimana bakteri buruk mendominasi area vagina dan menggantikan bakteri baik, kita mengenal sebagai suatu kondisi yang disebut disbiosis. Kondisi disbiosis dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti keputihan yang tidak normal, bau tidak sedap, gatal, serta meningkatnya risiko infeksi (patologis).
Bagaimana membedakan keputihan sehat dan tidak sehat?
Salah satu kondisi patologis atau dikenal sebagai disbiosis (gangguan keseimbangan bakteri baik di genitalia) adalah adanya keputihan. Untuk membedakan apakah keputihan masih normal (fisiologis) atau tidak normal (patologis) dilihat dari konsistensi, warna, gejala menyertai dan kapan keputihan tersebut terjadi.
Keputihan fisiologis adalah keluarnya cairan dari vagina yang normal dan tidak berbahaya. Hal ini merupakan bagian dari mekanisme alami tubuh untuk membersihkan dan menjaga kelembaban vagina, Ciri-ciri keputihan fisiologis antara lain Warna Bening, konsistensi cair, tidak berbau, tidak disertai gejala gatal, nyeri maupun iritasi. Kondisi ini didapatkan pada saat ovulasi, hamil, atau menjelang menstruasi.
Sedangkan keputihan patologis adalah cairan yang keluar dari vagina akibat infeksi. Ciri-ciri keputihan patologis antara lain berwarna kuning, kehijauan atau abu, konsistensi kental, kadang menggumpal seperti susu basi, atau berbusa, bau amis, busuk, atau menyengat, disertai dengan gejala lain seperti gatal, perih, nyeri saat buang air kecil, nyeri saat berhubungan seksual, atau iritasi di area vagina.
Disbiosis dan Risiko Komplikasi Kehamilan
Ketika populasi Lactobacillus menurun dan digantikan oleh keragaman bakteri anaerob yang tinggi, terjadilah kondisi yang disebut disbiosis. Kondisi ini memicu berbagai komplikasi berat, di antaranya:
- Kelahiran Prematur: Infeksi akibat disbiosis, seperti Bacterial Vaginosis (BV), merupakan penyebab utama kelahiran prematur di seluruh dunia. Bakteri patogen menghasilkan enzim proteolitik yang dapat memecah matriks ekstraseluler selaput janin, menyebabkannya menjadi tipis, elastisitasnya berkurang, dan akhirnya memicu pecah ketuban dini.
- Risiko Operasi Sesar Darurat: Penelitian menunjukkan bahwa skor disbiosis vagina yang tinggi pada usia kehamilan 24 minggu dikaitkan dengan peningkatan risiko operasi sesar darurat sebesar 37%. Hal ini diduga terjadi karena adanya peradangan intra-amniotik yang dipicu oleh bakteri jahat saat ketuban pecah dalam proses persalinan.
- Keguguran dan Kehamilan Ektopik: Penipisan bakteri Lactobacillus pada trimester pertama secara signifikan meningkatkan risiko kehilangan kehamilan (keguguran). Selain itu, lingkungan vagina yang tidak didominasi Lactobacillus (NLDM) dikaitkan dengan risiko kehamilan ektopik karena potensi peradangan dan pembentukan jaringan parut pada saluran tuba.
- Preeklamsia dan Diabetes Gestasional: Disbiosis vagina juga dikaitkan dengan peningkatan pelepasan sitokin pro-inflamasi (seperti TNF-α) ke dalam aliran darah ibu, yang dapat memperburuk resistensi insulin dan memicu gangguan tekanan darah selama kehamilan.
Implikasi Kesehatan dan Risiko Jangka Panjang
Ketidakseimbangan mikrobioma selama kehamilan tidak boleh disepelekan. Penelitian menunjukkan bahwa gangguan pada mikrobioma vagina berkaitan erat dengan risiko infeksi yang lebih tinggi. Sebagai contoh, sebuah studi tahun 2019 terhadap ibu hamil di China menemukan bahwa mereka yang terinfeksi Human Papillomavirus (HPV) memiliki jumlah bakteri baik (Lactobacillus) yang jauh lebih rendah dan didominasi oleh bakteri merugikan. Jika tidak ditangani, ketidakseimbangan ini dan keputihan patologis yang menyertainya dapat menjadi faktor pemicu masalah kesehatan genitalia yang lebih serius di masa depan, termasuk risiko keganasan pada serviks
Referensi:
1. Günther, V.; Allahqoli, L.; Watrowski, R.; Maass, N.; Ackermann, J.; von Otte, S.; Alkatout, I. Vaginal Microbiome in Reproductive Medicine. Diagnostics 2022,12,1948.
2. Garcia-Velasco, J.A.; Budding, D.; Campe, H.; Malfertheiner, S.F.; Hamamah, S.; Santjohanser, C.; Schuppe-Koistinen, I.; Nielsen, H.S.; Vieira-Silva, S.; Laven, J. The reproductive microbiome—Clinical practice recommendations for fertility specialists. Reprod. Biomed. Online 2020, 41, 443–453.
3. Valeriano VD, et al. (2024). Vaginal dysbiosis and the potential of vaginal microbiome-directed therapeutics. Frontiers in Microbiomes, 3:1363089
4. Chen Y, et al. Association between the vaginal microbiome and high-risk human papillomavirus infection in pregnant Chinese women. BMC Infect Dis. 2019;19:677.
5. Sun, D., et al. (2022). The association between vaginal microbiota disorders and early missed abortion: A prospective study. Acta Obstetricia et Gynecologica Scandinavica, 101, 960–971
6. Elovitz, M.A., et al. (2019). Cervicovaginal microbiota and local immune response modulate the risk of spontaneous preterm delivery. Nature Communications, 10, 1305
7. Gerede, A., et al. (2024). Vaginal Microbiome and Pregnancy Complications: A Review. Journal of Clinical Medicine, 13(13), 3875